Perubahan iklim telah menjadi ancaman nyata bagi sektor pertanian global, termasuk di Indonesia. Fluktuasi cuaca ekstrem, seperti kekeringan berkepanjangan dan banjir yang tidak terduga, semakin sering terjadi, mengganggu produksi pangan dan mengancam ketahanan pangan. Dalam menghadapi tantangan ini, Pertanian Cerdas Iklim (Climate-Smart Agriculture/CSA) muncul sebagai pendekatan inovatif yang menawarkan solusi adaptif untuk menjaga produksi pangan tetap stabil. Pertanian Cerdas Iklim berfokus pada peningkatan produktivitas dan pendapatan secara berkelanjutan, adaptasi dan pembangunan ketahanan terhadap perubahan iklim, serta pengurangan emisi gas rumah kaca.
Salah satu pilar utama Pertanian Cerdas Iklim adalah adaptasi terhadap dampak perubahan iklim. Petani didorong untuk mengadopsi praktik-praktik yang membuat lahan dan tanaman mereka lebih tangguh. Contohnya, penggunaan varietas tanaman unggul yang tahan kekeringan atau banjir, serta penerapan sistem irigasi yang efisien seperti irigasi tetes. Di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, misalnya, pada musim tanam kedua tahun 2024 (sekitar bulan Agustus), kelompok tani “Sumber Rezeki” berhasil panen padi varietas unggul yang tahan kekeringan, meskipun menghadapi musim kemarau panjang. Mereka juga menerapkan sistem irigasi hemat air yang dipantau setiap hari Jumat oleh penyuluh pertanian setempat. Selain itu, praktik agroforestri, yaitu menanam pohon di lahan pertanian, juga membantu menjaga kelembaban tanah dan mengurangi erosi.
Selain adaptasi, Pertanian Cerdas Iklim juga menekankan pentingnya mitigasi perubahan iklim melalui pengurangan emisi. Salah satu caranya adalah dengan mengurangi penggunaan pupuk kimia sintetis yang berkontribusi pada emisi gas rumah kaca. Sebagai gantinya, petani didorong untuk menggunakan pupuk organik dan kompos. Program pelatihan pembuatan pupuk kompos yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan pada awal tahun 2025 di 10 kabupaten sentra padi telah melatih lebih dari 5.000 petani. Pengelolaan limbah pertanian, seperti sisa panen, menjadi pupuk juga merupakan bagian dari strategi ini. Peningkatan efisiensi penggunaan energi di pertanian, misalnya dengan menggunakan pompa air bertenaga surya, juga menjadi bagian dari upaya mitigasi.
Pemerintah memiliki peran krusial dalam mendukung adopsi Pertanian Cerdas. Dukungan dapat berupa penyediaan bibit unggul, pelatihan bagi petani, akses terhadap teknologi modern, dan kebijakan yang mendukung investasi pada praktik pertanian berkelanjutan. Pada rapat koordinasi tingkat nasional tanggal 17 April 2025 di Jakarta, Kementerian Pertanian telah mengalokasikan dana sebesar Rp 500 miliar untuk program pengembangan pertanian cerdas iklim di 20 provinsi. Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta diperlukan untuk mempercepat implementasi pendekatan ini. Dengan menerapkan prinsip-prinsip Pertanian Cerdas Iklim, kita dapat membangun sistem pangan yang lebih tangguh, berkelanjutan, dan mampu menghadapi tantangan perubahan iklim demi masa depan yang lebih baik.