Peningkatan produktivitas adalah tujuan utama dalam sektor pertanian, dan salah satu cara paling efektif untuk mencapainya adalah melalui adopsi varietas unggul. Namun, pengenalan varietas baru ini harus diikuti dengan pelatihan langsung kepada para petani agar mereka memahami cara budidaya yang tepat dan memaksimalkan potensi bibit tersebut. Metode “belajar sambil praktik” ini sangat krusial dalam mentransfer pengetahuan dan teknologi. Pada Jumat, 7 November 2025, dalam acara field day di lahan demonstrasi Balai Penelitian Tanaman Pangan (BPTP) di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Bapak Ir. Sutrisno, seorang peneliti senior dari Kementerian Pertanian, menegaskan, “Pelatihan langsung varietas unggul adalah kunci agar petani bisa melihat, membandingkan, dan mengadopsi inovasi ini dengan percaya diri.” Pernyataan ini didukung oleh data hasil panen dari 50 kelompok tani di wilayah tersebut pada Oktober 2025, yang menunjukkan peningkatan hasil padi hingga 25% setelah mengadopsi varietas Inpari 42 melalui pelatihan.
Salah satu manfaat utama pelatihan langsung adalah kesempatan bagi petani untuk mengamati dan membandingkan langsung performa varietas unggul dengan varietas lokal yang biasa mereka tanam. Di lahan demplot, mereka bisa melihat perbedaan dalam pertumbuhan, ketahanan terhadap hama/penyakit, dan hasil panen. Hal ini seringkali lebih meyakinkan daripada sekadar data di atas kertas. Petani juga diajarkan secara langsung bagaimana cara mempersiapkan lahan, mengukur dosis pupuk spesifik untuk varietas unggul, dan teknik penanaman yang optimal. Misalnya, pada pukul 09.00 WIB di hari field day tersebut, para petani diperlihatkan perbedaan anakan dan tinggi tanaman padi varietas unggul Inpari 42 dan varietas lokal Cilamaya.
Selain observasi, pelatihan langsung juga melibatkan praktik budidaya varietas unggul secara mandiri di bawah bimbingan penyuluh atau peneliti. Petani akan mendapatkan pengalaman langsung dalam menangani benih, melakukan pemeliharaan, hingga teknik panen yang disesuaikan dengan karakteristik varietas tersebut. Ini membantu mereka mengidentifikasi potensi masalah dan mendapatkan solusi segera. Contohnya, pada April 2025, 30 petani di Indramayu mengikuti pelatihan langsung budidaya melon varietas ‘Maduri’ yang tahan penyakit dan memiliki kadar gula tinggi, di mana mereka mempraktikkan cara pemangkasan tunas dan pengaturan buah per tanaman.
Dukungan teknis dan informasi berkelanjutan pasca pelatihan langsung juga krusial untuk memastikan keberhasilan adopsi varietas unggul. Petani perlu tahu siapa yang bisa dihubungi jika mereka menghadapi masalah setelah pelatihan selesai. Program pendampingan dari Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) dan ketersediaan benih varietas unggul yang terjamin adalah faktor penentu. Sebuah laporan dari Badan Ketahanan Pangan Nasional pada 1 September 2025, merekomendasikan peningkatan ketersediaan benih varietas unggul bersertifikat di setiap daerah. Dengan kombinasi pelatihan langsung yang efektif dan dukungan pasca-pelatihan, petani dapat secara signifikan meningkatkan produktivitas mereka dan berkontribusi pada ketahanan pangan nasional.