Hubungan antara deforestasi dan pertanian merupakan isu kompleks yang krusial bagi keberlanjutan lingkungan dan ketahanan pangan. Pembukaan lahan hutan secara masif, seringkali untuk ekspansi pertanian, telah menjadi pendorong utama degradasi lahan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Memahami keterkaitan ini sangat penting untuk menemukan solusi yang seimbang dan berkelanjutan.
Pertama, deforestasi dan pertanian seringkali berjalan beriringan karena kebutuhan lahan untuk budidaya tanaman pangan atau perkebunan. Ketika hutan dibuka, lapisan tanah atas yang subur menjadi rentan terhadap erosi oleh air hujan dan angin. Akar pohon yang tadinya menahan tanah kini tiada, menyebabkan tanah kehilangan struktur dan nutrisinya dengan cepat. Proses ini mempercepat degradasi lahan, mengubah area yang dulunya produktif menjadi gersang. Sebagai contoh, sebuah studi dari Pusat Penelitian Lingkungan Hidup Universitas Indonesia pada 17 Juli 2024 menunjukkan bahwa konversi lahan hutan menjadi perkebunan monokultur di beberapa daerah Kalimantan menyebabkan peningkatan laju erosi tanah hingga 15% dalam lima tahun pertama setelah pembukaan hutan.
Selain erosi, deforestasi dan pertanian juga berkontribusi pada penurunan keanekaragaman hayati dan perubahan iklim mikro. Hilangnya tutupan hutan mengurangi kemampuan tanah untuk menyerap dan menyimpan air, yang dapat memicu kekeringan di musim kemarau dan banjir bandang di musim hujan. Kondisi ini membuat lahan pertanian baru yang terbentuk menjadi tidak stabil dan rentan terhadap penurunan produktivitas jangka panjang. Pada 12 Agustus 2025, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis data yang mengindikasikan bahwa frekuensi dan intensitas kekeringan ekstrem di beberapa wilayah yang mengalami deforestasi tinggi telah meningkat secara signifikan selama satu dekade terakhir.
Untuk mengatasi dampak ini, diperlukan pendekatan terpadu yang mempromosikan praktik pertanian berkelanjutan dan restorasi lahan. Inisiatif seperti agroforestri, di mana tanaman pertanian ditanam bersama pohon, dapat membantu mengurangi erosi dan meningkatkan kesuburan tanah. Penegakan hukum yang ketat terhadap pembukaan lahan ilegal juga esensial. Pada 30 Mei 2025, Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) berhasil menangkap sejumlah oknum yang terlibat dalam pembakaran hutan untuk perluasan lahan pertanian ilegal di Sumatra, sebagai bagian dari operasi penegakan hukum lingkungan. Dengan mengelola hubungan antara deforestasi dan pertanian secara bijaksana, kita dapat melindungi lahan, hutan, dan pada akhirnya, masa depan pangan kita.